Jurnalisme Mati di Tangan ‘Anjing Penjilat’: Menggugat Budaya Wartawan Pesanan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 08:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi AI Untuk Wartawan Yang Menjadi Anjing Penjilat (Dok.GNews86)

Ilustrasi AI Untuk Wartawan Yang Menjadi Anjing Penjilat (Dok.GNews86)

GNews86.Com, OPINI| ​Dahulu, pers dijuluki sebagai The Fourth Estate—pilar keempat demokrasi yang berdiri tegak mengawasi jalannya kekuasaan. Namun hari ini, ketika kita membuka laman media sosial atau situs berita daring, aroma “pesanan” seringkali lebih menyengat daripada aroma kebenaran. Istilah “Anjing Penjilat” mungkin terdengar kasar, namun ia adalah metafora pahit bagi fenomena wartawan yang beralih fungsi menjadi tim sorak (buzzer) bagi kepentingan tertentu.

​REALITAS YANG MEMUAKKAN

​Belakangan ini, kita disuguhi fenomena “jurnalisme rilis” yang sangat masif. Sebuah isu besar mencuat, namun narasi yang muncul di berbagai media seragam secara mencurigakan—bahkan hingga ke titik koma dan salah ketiknya. Data dari berbagai lembaga riset media menunjukkan bahwa indeks kemerdekaan pers kita seringkali terbentur pada dua dinding besar: represi aparat dan kooptasi ekonomi.

​Dalam tekanan industri media yang semakin berdarah-darah, idealisme seringkali digadaikan demi kontrak adventorial atau titipan narasi dari pihak yang memiliki modal. Jurnalisme yang seharusnya berfungsi sebagai “anjing penjaga” (watchdog) yang menggonggong saat ada ketidakadilan, justru berubah menjadi “anjing penjilat” yang mengekor pada tangan yang memberi makan.

​MELANGGAR KHITTAH KODE ETIK

​Secara faktual, fenomena wartawan pesanan ini adalah pelanggaran telak terhadap Pasal 1 Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang menyatakan bahwa wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

​Argumen saya sederhana: Berita bukan komoditas propaganda. Ketika seorang jurnalis menerima pesanan untuk menjatuhkan lawan politik seseorang atau memoles citra korporasi yang sedang bermasalah, ia sedang membunuh kepercayaan publik. Sekali kepercayaan itu mati, maka fungsi pers sebagai kontrol sosial berakhir. Kita tidak lagi membaca berita; kita sedang membaca brosur iklan yang menyamar menjadi produk jurnalistik.
​”Pers yang tidak bebas mungkin baik atau buruk, namun tanpa kebebasan, pers tidak akan pernah menjadi apa pun selain buruk.” — Albert Camus.

​Dominasi Clickbait dan Kematian Substansi
​Originalitas kini menjadi barang mewah. Demi mengejar traffic dan algoritma, kedalaman investigasi dikorbankan. Wartawan pesanan tidak butuh riset; mereka hanya butuh arahan “siapa yang harus dipuji” dan “siapa yang harus dicaci”. Akibatnya, publik disuguhi informasi sampah yang hanya memperkeruh polarisasi.

​Budaya “amplop” yang bertransformasi menjadi “kontrak narasi” ini menciptakan ekosistem yang tidak sehat. Jurnalis idealis yang mencoba bersuara kritis seringkali dipinggirkan atau dilabeli sebagai pembangkang, sementara mereka yang pandai “menjilat” mendapatkan akses eksklusif dan fasilitas mewah.

​Kesimpulan: Kembali ke Khittah atau Punah
​Jurnalisme tidak akan mati karena hilangnya kertas atau berubahnya platform menjadi digital. Jurnalisme akan mati ketika kredibilitasnya menyentuh titik nol. Jika budaya wartawan pesanan ini terus dipelihara, jangan salahkan publik jika mereka lebih percaya pada influencer serampangan daripada institusi media resmi.

​Sudah saatnya redaksi melakukan pembersihan internal dan kembali pada khittah jurnalisme yang memihak pada publik, bukan pada pemesan. Kita butuh jurnalis yang berani “menggonggong” pada ketimpangan, bukan jurnalis yang sibuk mencari remah-remah di bawah meja kekuasaan. Karena pada akhirnya, tugas jurnalis adalah menyuarakan kebenaran, bukan menyuarakan pesanan.

Editor: Cdr

Berita Terkait

Pagar Baru di Ruang Publik
Jejak Sang Proklamator di Tengah Tantangan Zaman
Mobil Listrik Rp200 Jutaan Kian Dekat, Peta Persaingan Berubah
Arus Pulang dari Tanah Suci
Janji di Tengah Reruntuhan
Jejak Dialog di Timur Indonesia
Di Persimpangan Dua Suku Bunga: Saat Mata Dunia Menoleh ke Jakarta
Jeriken di Bangku Terdakw
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:22 WIB

Pagar Baru di Ruang Publik

Sabtu, 20 Juni 2026 - 17:13 WIB

Jejak Sang Proklamator di Tengah Tantangan Zaman

Jumat, 19 Juni 2026 - 03:52 WIB

Mobil Listrik Rp200 Jutaan Kian Dekat, Peta Persaingan Berubah

Jumat, 19 Juni 2026 - 03:44 WIB

Arus Pulang dari Tanah Suci

Kamis, 18 Juni 2026 - 06:55 WIB

Jejak Dialog di Timur Indonesia

Berita Terbaru

DPRD Kota Bandung resmi mengesahkan Perda Pencegahan dan Pengendalian Perilaku Seksual Berisiko dan Penyimpangan Seksual sebagai landasan hukum bagi upaya pencegahan, pembinaan, dan perlindungan sosial di masyarakat.(dok foto: viva.co.id)

Nasional

Pagar Baru di Ruang Publik

Sabtu, 20 Jun 2026 - 17:22 WIB

Kapolri berziarah ke Makam Bung Karno di Blitar untuk mengenang dan menyerap nilai kepemimpinan Presiden pertama RI sebagai inspirasi dalam menjaga persatuan dan pengabdian kepada bangsa.(dok foto: viva.co.id)

Nasional

Jejak Sang Proklamator di Tengah Tantangan Zaman

Sabtu, 20 Jun 2026 - 17:13 WIB

Kementerian Haji dan Umrah melaporkan sebanyak 114.236 jemaah dan petugas haji Indonesia atau sekitar 55 persen dari total peserta telah kembali ke Indonesia hingga hari ke-17 masa pemulangan.(dok foto : Viva.co.id)

Nasional

Arus Pulang dari Tanah Suci

Jumat, 19 Jun 2026 - 03:44 WIB