Tragedi Maut Sijunjung: 9 Pekerja Tambang Emas Ilegal Tewas Tertimbun

Jumat, 15 Mei 2026 - 09:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Sedang Mengevakuasi Korban Tertimbun Longsor Tambang Emas Ilegal  (PETI) di Sununjung (Dok.GNews86)

Warga Sedang Mengevakuasi Korban Tertimbun Longsor Tambang Emas Ilegal (PETI) di Sununjung (Dok.GNews86)

SIJUNJUNG (SUMATRA BARAT) – Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Sijunjung memakan korban jiwa. Sebanyak sembilan orang penambang ilegal dilaporkan tewas seketika setelah material tanah longsor menimbun lokasi kerja mereka di Kampung Sintuk, Jorong Koto Guguak, Nagari Guguak, Kecamatan Koto VII, pada Kamis (14/5/2026) siang.

​TRAGEDI MAUT DI LOKASI DOMPENG

Peristiwa memilukan ini terjadi sekitar pukul 12.00 WIB di titik rawan yang merupakan pertemuan tiga aliran sungai besar: Batang Kuantan, Batang Ombilin, dan Batang Sinamar. Sembilan korban yang tengah melakukan aktivitas tambang dengan metode dompeng tidak sempat menyelamatkan diri saat tebing di sekitar lokasi runtuh akibat tingginya debit air pasca hujan deras.

​Adapun identitas sembilan korban meninggal dunia adalah Ujang Kandar (40), Haris (23), Atan (20), Baim (17), Acai (43), Marsel Buyuik (23), Ditol (40), Madi (24), dan Diok (22). Seluruh korban merupakan warga setempat yang menggantungkan hidup pada sektor pertambangan rakyat tersebut.

​KRONOLOGI DAN PROSES EVAKUASI WARGA

Wali Nagari Guguak, Zainal, mengonfirmasi bahwa kesembilan korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tertimbun material longsoran yang cukup pekat. Menurutnya, proses pencarian dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat selama kurang lebih enam jam di tengah kondisi medan yang sulit.

​”Semua korban tertimbun material runtuhan tambang. Proses evakuasi dimulai setelah waktu Dzuhur dan baru berakhir menjelang Maghrib karena tumpukan material yang cukup banyak,” ungkap Zainal saat memberikan keterangan kepada awak media.

​Zainal menambahkan bahwa jenazah Ujang Kandar (40) menjadi yang pertama berhasil dievakuasi. Meski sempat ada rencana membawa para korban ke Puskesmas Tanjung Ampalu untuk autopsi, pihak keluarga memutuskan untuk langsung membawa jenazah ke rumah duka masing-masing untuk segera dimakamkan.

​PERINGATAN CUACA EKSTREM YANG TERABAIKAN

Berdasarkan keterangan pihak pemerintah nagari, lokasi tersebut sebenarnya sudah dipetakan sebagai zona bahaya, terutama saat cuaca ekstrem. Pertemuan aliran Batang Ombilin dan Batang Sinamar yang bermuara ke Batang Kuantan menciptakan arus kuat dan tanah yang labil.

​”Sebelum kejadian, pihak nagari sebenarnya sudah mengingatkan masyarakat agar menghentikan sementara aktivitas penambangan karena cuaca ekstrem terus melanda. Namun, imbauan itu tidak diindahkan karena tuntutan kebutuhan,” kata Zainal menyesalkan.

​Ia tidak menampik bahwa aktivitas PETI atau dompeng ini telah menjadi tulang punggung ekonomi bagi warga Nagari Guguak. “Memang itu mata pencarian utama masyarakat sekarang, sehingga meski berisiko tinggi, mereka tetap bekerja,” tambahnya. Pasca kejadian ini, Zainal menegaskan bahwa seluruh aktivitas tambang di kawasan tersebut telah dihentikan total untuk menghindari longsor susulan.

​MINIMNYA LAPORAN RESMI KEPADA OTORITAS TERKAIT

Di sisi lain, terdapat ketimpangan informasi antara kejadian di lapangan dengan laporan resmi ke instansi penanggulangan bencana. Sekretaris BPBD Sijunjung, Satria Zali, mengaku pihaknya justru tidak mendapatkan laporan formal saat peristiwa berlangsung.

​”Kepada kami di BPBD Sijunjung tidak ada laporan langsung. Kami hanya melihat informasi via grup WhatsApp saja,” ujar Satria.

​Satria menjelaskan bahwa dalam banyak kasus pertambangan ilegal, masyarakat maupun pengelola cenderung tertutup kepada pemerintah daerah atau aparat penegak hukum ketika terjadi kecelakaan kerja.

“Kejadian yang berkaitan dengan aktivitas tambang emas ilegal memang jarang dilaporkan masyarakat kepada pemerintah daerah,” tutupnya.

​Hingga berita ini diturunkan, lokasi kejadian terpantau sepi dan garis pengamanan swadaya telah dipasang oleh warga untuk mencegah orang mendekati bibir sungai yang masih rawan longsor.

Editor: Redaksi

Berita Terkait

Harmoni dari Timur Menuju Panggung Nasional
Suara Tanah Adat yang Tersisih di Meja Kebijakan
Jejak Api di Kampus, Menanti Ujung Penyidikan
Jejak Sopi di Kota Damai, Polisi Perketat Peredaran Miras di Masohi
Pendopo Jadi Lautan Dukungan
Jeriken di Bangku Terdakw
Jejak Data di Ufuk Timur Kota Tual
Jembatan yang Ditunggu di Tengah Arus yang Memisahkan
Berita ini 251 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:56 WIB

Harmoni dari Timur Menuju Panggung Nasional

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:34 WIB

Suara Tanah Adat yang Tersisih di Meja Kebijakan

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:18 WIB

Jejak Api di Kampus, Menanti Ujung Penyidikan

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:07 WIB

Jejak Sopi di Kota Damai, Polisi Perketat Peredaran Miras di Masohi

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:00 WIB

Pendopo Jadi Lautan Dukungan

Berita Terbaru

DPRD Kota Bandung resmi mengesahkan Perda Pencegahan dan Pengendalian Perilaku Seksual Berisiko dan Penyimpangan Seksual sebagai landasan hukum bagi upaya pencegahan, pembinaan, dan perlindungan sosial di masyarakat.(dok foto: viva.co.id)

Nasional

Pagar Baru di Ruang Publik

Sabtu, 20 Jun 2026 - 17:22 WIB

Kapolri berziarah ke Makam Bung Karno di Blitar untuk mengenang dan menyerap nilai kepemimpinan Presiden pertama RI sebagai inspirasi dalam menjaga persatuan dan pengabdian kepada bangsa.(dok foto: viva.co.id)

Nasional

Jejak Sang Proklamator di Tengah Tantangan Zaman

Sabtu, 20 Jun 2026 - 17:13 WIB

Kementerian Haji dan Umrah melaporkan sebanyak 114.236 jemaah dan petugas haji Indonesia atau sekitar 55 persen dari total peserta telah kembali ke Indonesia hingga hari ke-17 masa pemulangan.(dok foto : Viva.co.id)

Nasional

Arus Pulang dari Tanah Suci

Jumat, 19 Jun 2026 - 03:44 WIB

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjanjikan bantuan modal usaha Rp10 juta dan peluang kerja bagi pedagang yang terdampak penertiban kawasan wisata Puncak sebagai bagian dari program penataan ruang dan pemulihan ekonomi masyarakat.( dok foto : Kompas.com)

Nasional

Janji di Tengah Reruntuhan

Jumat, 19 Jun 2026 - 03:35 WIB