KUANSING RIAU— Pemerintah Kecamatan Kuantan Tengah resmi mengajak seluruh perwakilan jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) untuk berpartisipasi aktif dalam ajang Pacu Jalur Rayon II. Pergelaran budaya ini dilaksanakan khusus untuk menyemarakkan perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-44 Tingkat Provinsi Riau yang dijadwalkan berlangsung pada 26–28 Juni 2026 mendatang. Dengan mengusung tema unik “Siang Bapacu, Malam Mangaji”, event ini dirancang sebagai jembatan harmonis antara pelestarian budaya lokal dan syiar religius Islam, sekaligus menjadi magnet utama bagi para kafilah dan wisatawan yang datang dari berbagai pelosok Bumi Lancang Kuning.
SERUAN CAMAT KUANTAN TENGAH UNTUK MERAMAIKAN EVENT
Aspirasi untuk menyatukan dua identitas besar masyarakat Kuansing—yakni tradisi pacu jalur dan nilai keislaman—disampaikan langsung oleh Camat Kuantan Tengah, Eka Putra. Saat ditemui oleh para jurnalis pada Minggu (17/5/2026), dirinya menegaskan bahwa momentum tuan rumah MTQ Tingkat Provinsi ini harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas.
”Ayo kita sukseskan dan ramaikan kegiatan Pacu Jalur Rayon II sempena MTQ ke-44 Tingkat Provinsi Riau dengan mengusung tema ‘Siang Bapacu, Malam Mangaji’. Tentunya kegiatan ini akan berbeda dibandingkan pelaksanaan MTQ sebelumnya,” ujar Eka Putra dengan penuh optimisme.
Eka Putra menambahkan, kehadiran Pacu Jalur Rayon II bukan sekadar pelengkap seremonial, melainkan bagian dari strategi kultural untuk menghidupkan suasana kota. Melalui tema “Siang Bapacu, Malam Mangaji”, pemerintah ingin menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap olahraga tradisional tidak akan menyurutkan kekhusyukan dalam mengagungkan ayat-ayat suci Al-Qur’an pada malam harinya.
PERSPEKTIF PEJABAT DAERAH TERHADAP KESIAPAN INFRASTRUKTUR
Pihak panitia tingkat kabupaten turut memberikan konfirmasi mengenai kesiapan teknis pelaksanaan ganda ini. Mengingat durasi acara yang berlangsung selama tiga hari penuh di akhir Juni, pengaturan logistik, arus lalu lintas, dan keamanan arena pacu menjadi prioritas utama.
Perwakilan panitia teknis lapangan dari Pemerintah Kabupaten Kuansing, memberikan pemaparan mengenai manajemen alokasi waktu dan tempat agar kedua agenda besar ini tidak saling berbenturan, melainkan saling mendukung.
”Kami dari jajaran panitia teknis telah mengondisikan Tepian Narosa dan fasilitas penunjang keagamaan agar siap seratus persen. Di siang hari, fokus massa akan berada di sungai untuk menyaksikan ketangkasan para atlet jalur. Begitu matahari terbenam, seluruh aktivitas beralih ke mimbar utama MTQ dan masjid-masjid. Kami menjamin koordinasi keamanan dan kebersihan akan dijaga ketat agar kenyamanan para tamu dari kabupaten lain tetap terjaga,” ungkapnya saat dikonfirmasi via telepon.
RESPON DAN DUKUNGAN MASYARAKAT ADAT SERTA PECINTA PACU JALUR
Ajakan dari pemerintah kecamatan tersebut mendapat sambutan hangat dari para pelaku budaya dan masyarakat akar rumput di Kuansing. Bagi mereka, pelaksanaan pacu jalur yang dilekatkan dengan agenda keagamaan tingkat provinsi merupakan sebuah kehormatan sekaligus tantangan untuk menampilkan performa terbaik.
Sudarman, salah seorang pengurus jalur senior di Kuantan Singingi, menyatakan kesiapan komunitasnya untuk segera menurunkan perahu jalur terbaik mereka ke sungai.
Ia menilai tema yang diusung sangat merepresentasikan jati diri masyarakat Melayu Riau yang agamis namun tetap memegang teguh adat istiadat.
”Kami selaku pecinta budaya Pacu Jalur sangat mendukung langkah Pemerintah Kecamatan Kuantan Tengah. Tema ‘Siang Bapacu, Malam Mangaji’ ini sangat pas dengan filosofi hidup kita di Kuansing. Anak-anak pacuan sudah kami instruksikan untuk bersiap. Siang hari kita bertarung di jalur dengan sportivitas, malamnya kita sama-sama meramaikan masjid dan mendengarkan lantunan ayat suci. Ini akan menjadi sejarah baru yang membanggakan,” kata Sudarman saat ditemui di lokasi latihan jalur.
DAMPAK EKONOMI DAN PRESERVASI BUDAYA KHAS KUANSING
Sebagai bagian akhir dari struktur informasi, perhelatan Pacu Jalur Rayon II sempena MTQ ke-44 ini diproyeksikan membawa dampak berantai (multiplier effect) yang signifikan bagi sektor ekonomi kreatif dan pariwisata lokal. Selain menjadi ajang perlombaan tradisional yang memacu adrenalin, agenda ini diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi antar-daerah di Provinsi Riau, meningkatkan volume kunjungan wisata secara drastis, serta memperkenalkan keunikan budaya khas Kuansing langsung kepada para tamu, penonton, dan kafilah dari seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Riau.
Pemerintah dan masyarakat Kuantan Tengah berharap sinergi ini dapat berjalan sukses tanpa hambatan, sekaligus menjadi cetak biru (blueprint) pelaksanaan event budaya-religi yang sukses di masa depan.
Editor: Redaksi














