Depur Maluku Tenggara, Kamis (28 Mei 2026) | Gnews86.Com — Sejak matahari mulai meninggi di langit Kei Besar, kawasan Istana Lovuk Tercinta, Desa Depur, perlahan dipenuhi langkah warga yang datang dari berbagai penjuru lorong rumah kampung untuk mengikuti pelaksanaan kurban Idul Adha 1447 Hijriah. Sebagian membawa peralatan, sebagian lainnya datang sekadar membantu tenaga, sementara para orang tua memilih duduk di bawah tenda sambil mengamati kesibukan panitia. Momentum tahunan itu kembali menghadirkan suasana yang tidak hanya sarat nilai ibadah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat desa Depur menjaga tradisi gotong royong yang perlahan mulai langka di banyak wilayah lain, warga terlihat bekerja tanpa memandang status sosial maupun kelompok keluarga tertentu demi memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib hingga selesai.
Aktivitas penyembelihan dimulai sekitar pukul 10.49 WIT dengan pengaturan lokasi yang dibuat sederhana namun tertib. Panitia menyiapkan area pemotongan, tempat pencucian daging, hingga jalur pembagian kupon secara terpisah agar kerumunan dapat dihindari. Di tengah suasana takbir yang masih terdengar dari pengeras suara, masyarakat saling berbagi tugas tanpa menunggu instruksi panjang. Anak-anak Negeri Tien-Tel tampak mengelilingi area luar tenda sambil memperhatikan proses penyembelihan dari kejauhan, sedangkan para pemuda sibuk membantu pengangkutan peralatan dan pengemasan daging kurban yang akan dibagikan kepada warga penerima.
Tahun ini, panitia kurban Desa Depur menyembelih dua ekor sapi dan empat ekor kambing yang diproses dalam dua tahapan waktu berbeda. Tahap pertama dilakukan pada pagi hari dengan satu sapi dan dua kambing, sementara tahap kedua dilanjutkan sekitar pukul 15.04 WIT dengan jumlah hewan yang sama. Pembagian waktu tersebut dinilai cukup efektif untuk menjaga stabilitas kegiatan di lapangan sekaligus mengurangi penumpukan masyarakat saat distribusi berlangsung. Panitia mengakui bahwa pengaturan ritme kerja menjadi penting agar proses penyembelihan tidak mengganggu keteraturan lingkungan maupun kenyamanan warga yang hadir.
Di sela kesibukan itu, suasana khas perayaan Idul Adha 1447 Hijriah 2026 Masehi, di wilayah Desa Depur terasa begitu kuat. Sejumlah Panitia terlihat membantu membersihkan daging dan mempersiapkan kantong pembagian, sementara kelompok pemuda bertugas mengangkat hasil pemotongan menuju area penimbangan. Tidak ada garis pemisah yang tegas antara panitia dan masyarakat biasa. Hampir seluruh warga yang hadir terlibat secara langsung dalam pekerjaan lapangan. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kurban di Desa Depur tidak dipandang sebagai acara seremonial tahunan semata, melainkan bagian dari kerja sosial bersama yang terus diwariskan lintas generasi.
Ketua Panitia Kurban, M. Imron Rumra, S.Pd, mengatakan distribusi daging dilakukan menggunakan sistem kupon agar pembagian dapat berlangsung merata dan tertib. Panitia mencatat sedikitnya 102 kupon dibagikan kepada masyarakat dengan setiap penerima memperoleh sekitar tiga kilogram (3Kg) daging sapi sesuai hasil pembagian yang telah disepakati bersama sebelumnya. Menurut dia, pola distribusi seperti ini dipertahankan karena dianggap mampu mengurangi potensi kerumunan sekaligus menjaga rasa keadilan antarwarga. Sistem tersebut juga memudahkan panitia dalam memastikan seluruh penerima memperoleh bagian sesuai data yang telah diverifikasi sejak beberapa hari sebelumnya.
PENYEMBELIHAN DILAKUKAN BERTAHAP
Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban tahun ini kembali dipercayakan kepada Ustad H. Metawin yang selama beberapa tahun terakhir dikenal masyarakat sebagai tokoh utama dalam proses pemotongan hewan kurban di Desa Depur. Kepercayaan tersebut muncul bukan semata karena pengalaman teknis, melainkan juga karena ketelitian dan ketenangannya saat memimpin jalannya penyembelihan. Bagi masyarakat desa, kehadiran tokoh agama dalam kegiatan seperti ini dianggap penting untuk menjaga kekhusyukan ibadah sekaligus memastikan seluruh proses berjalan sesuai syariat dan tetap menghormati nilai-nilai keagamaan yang selama ini dijaga bersama.
Di sisi lain, keterlibatan berbagai unsur masyarakat terlihat cukup dominan sepanjang kegiatan berlangsung. Sejumlah tenaga pendidik dan pemuda desa seperti Sri Odar, S.Pd.I, Kiki Fatmalah Serang, S.Pd, Lisna Odar, M.Si, serta Usman Serang, A.Md.P, Serta Haris Hitimala, turut membantu proses lapangan sejak pagi hingga sore hari. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa pelaksanaan kurban di wilayah Desa Depur, masih menjadi agenda kolektif yang melibatkan banyak pihak secara sukarela. Dalam konteks sosial yang lebih luas, pola semacam ini menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat desa masih bertahan di tengah perubahan gaya hidup modern yang cenderung lebih individualistik.
Pengaturan kerja panitia juga dilakukan secara bergantian agar seluruh tahapan penyembelihan dapat berjalan tanpa hambatan berarti. Sebagian warga bertugas memegang hewan kurban, sebagian lainnya membersihkan lokasi pemotongan, sedangkan kelompok lain fokus pada proses penimbangan dan distribusi. Meskipun terlihat sederhana, pola koordinasi semacam itu menjadi faktor penting dalam menjaga ritme kegiatan tetap stabil hingga seluruh proses selesai. Di banyak daerah perkotaan, pekerjaan serupa umumnya dikerjakan tenaga khusus atau panitia terbatas. Namun di Desa Depur, hampir seluruh warga yang hadir ikut terlibat secara langsung tanpa pembagian kelas sosial yang mencolok.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa gotong royong di wilayah Desa Depur belum sepenuhnya tergerus perubahan sosial. Ketika sebagian masyarakat perkotaan mulai bergantung pada sistem kerja berbayar dalam berbagai kegiatan komunal, warga Desa Depur masih mempertahankan pola kerja kolektif berbasis kesadaran sosial. Tradisi seperti ini menjadi penting bukan hanya karena membantu meringankan pekerjaan lapangan, tetapi juga menjaga hubungan sosial antarwarga tetap terhubung. Dalam banyak kasus, ruang perjumpaan seperti pelaksanaan kurban justru menjadi salah satu sarana utama masyarakat desa memperkuat hubungan kekeluargaan di tengah kesibukan hidup sehari-hari.
GOTONG ROYONG MASIH MENJADI KEKUATAN UTAMA
Imam Masjid Nurul Huda Desa Depur,Bpk Abu Talib Serang, mengaku bersyukur karena seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan penuh Hikmah kebersamaan keluarga yang Begitu Sejuk dan Damai hingga selesai. Menurut dia, suasana yang saling membantu selama pelaksanaan kurban menjadi tanda bahwa hubungan sosial masyarakat masih terjaga dengan baik. Ia menilai Idul Adha bukan hanya momentum ibadah individual, melainkan ruang untuk memperkuat kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat kepulauan yang menghadapi banyak keterbatasan ekonomi maupun akses kebutuhan dasar. Karena itu, pelaksanaan kurban selalu dipandang lebih luas daripada sekadar penyembelihan hewan semata.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat desa di wilayah kepulauan menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi laut, hingga distribusi hewan kurban menjadi persoalan yang cukup terasa menjelang Idul Adha. Namun kondisi tersebut tidak mengurangi partisipasi warga untuk tetap terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan. Banyak warga memilih membantu tenaga jika belum mampu berkontribusi secara materi. Situasi ini memperlihatkan bahwa semangat berbagi di Desa Depur tidak hanya diukur dari nilai ekonomi, melainkan juga dari keterlibatan sosial yang terus dijaga bersama oleh masyarakat.
Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, budaya gotong royong sebenarnya menghadapi tantangan serius. Masuknya pola hidup individual, meningkatnya aktivitas ekonomi pribadi, hingga perubahan cara masyarakat berinteraksi perlahan memengaruhi hubungan sosial di banyak daerah. Namun pelaksanaan kurban di Desa Depur menunjukkan kondisi berbeda. Tradisi saling membantu masih bertahan sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat. Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi warga tanpa harus digerakkan melalui instruksi formal. Kesadaran kolektif seperti ini menjadi modal sosial penting yang tidak selalu mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat modern saat ini.
Sejumlah warga mengaku bahwa momentum Idul Adha selalu menjadi kesempatan mempertemukan kembali masyarakat yang sehari-hari sibuk dengan urusan masing-masing. Banyak pemuda yang bekerja di luar desa memilih pulang untuk membantu kegiatan kurban bersama keluarga dan kerabat mereka. Kehadiran warga dari berbagai latar belakang tersebut membuat suasana penyembelihan terasa lebih hidup dibanding hari-hari biasa. Dalam konteks sosial masyarakat kepulauan, perjumpaan semacam ini memiliki arti penting karena memperkuat hubungan kekeluargaan yang menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat desa selama bertahun-tahun.
Selain menjadi ruang sosial, pelaksanaan kurban juga menjadi sarana pendidikan nilai bagi generasi muda. Anak-anak yang hadir di lokasi tampak memperhatikan proses penyembelihan sambil mendengarkan penjelasan orang tua mengenai makna berbagi dan pengorbanan dalam Idul Adha. Meski sebagian hanya melihat dari kejauhan, pengalaman tersebut dianggap penting untuk menanamkan pemahaman sosial sejak dini. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi anak-anak modern, ruang belajar berbasis tradisi lokal seperti ini perlahan menjadi semakin jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
TRADISI YANG TERUS BERTAHAN
Sejak pagi hingga sore hari, kawasan Istana Lovuk Tercinta nyaris tidak pernah sepi dari aktivitas masyarakat. Sebagian datang membantu pekerjaan lapangan, sebagian lainnya hadir untuk menyaksikan proses pembagian daging kurban. Panitia juga melakukan dokumentasi kegiatan sebagai bentuk arsip tahunan sekaligus upaya menjaga keterbukaan kepada masyarakat terkait pelaksanaan kurban tahun ini. Langkah tersebut dinilai penting karena dokumentasi bukan hanya menjadi catatan kegiatan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga memori sosial desa agar tetap dikenang oleh generasi berikutnya di masa mendatang.
Dalam praktiknya, pelaksanaan kurban di wilayah kepulauan memang tidak selalu mudah dilakukan. Faktor geografis, keterbatasan akses distribusi, hingga biaya pengangkutan hewan menjadi tantangan yang hampir selalu muncul setiap tahun. Namun masyarakat Desa Depur tampak berupaya menjawab tantangan tersebut melalui kerja kolektif dan pembagian tugas yang lebih terorganisasi. Situasi ini memperlihatkan bahwa solidaritas sosial masih menjadi alat utama masyarakat desa dalam menghadapi berbagai keterbatasan struktural yang belum sepenuhnya mampu dijawab oleh pembangunan infrastruktur wilayah kepulauan.
Di balik suasana kebersamaan itu, tersimpan pula pesan sosial yang lebih luas mengenai pentingnya menjaga ruang-ruang komunal di tengah perubahan zaman. Ketika hubungan sosial di banyak tempat mulai bergeser ke pola interaksi digital yang cenderung berjarak, masyarakat Desa Depur justru memperlihatkan bagaimana aktivitas sederhana seperti kurban mampu mempertemukan warga dalam kerja nyata. Tradisi semacam ini menjadi pengingat bahwa pembangunan sosial tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mempertahankan nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan kurban tahun ini juga menunjukkan bahwa masyarakat desa masih memiliki kemampuan membangun sistem sosial berbasis partisipasi tanpa bergantung penuh pada struktur formal. Panitia bekerja bersama tokoh agama, pemuda, tenaga pendidik, hingga warga biasa dalam satu ritme kegiatan yang relatif teratur. Model kerja seperti ini sebenarnya mencerminkan kekuatan sosial lokal yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat kepulauan. Di banyak daerah, pola serupa mulai melemah akibat meningkatnya ketergantungan pada sistem kerja individual dan hubungan sosial yang semakin pragmatis.
Meski berlangsung sederhana, pelaksanaan kurban di Desa Depur memperlihatkan bahwa makna Idul Adha tetap hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Tidak ada kemewahan berlebihan di lokasi kegiatan. Tenda sederhana, peralatan seadanya, dan kerja bersama justru menjadi gambaran paling nyata tentang bagaimana nilai berbagi diterjemahkan dalam kehidupan desa. Situasi tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan sosial masyarakat tidak selalu ditentukan oleh besarnya sumber daya, melainkan oleh kemampuan menjaga rasa saling memiliki dalam kehidupan bersama.
Pada akhirnya, Idul Adha di Desa Depur tahun ini bukan hanya menghadirkan pembagian daging kurban kepada masyarakat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana solidaritas sosial tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi dan perubahan zaman yang terus bergerak cepat. Di balik suara takbir dan kesibukan warga sepanjang hari, tersimpan pesan bahwa masyarakat kecil di wilayah kepulauan masih menjaga satu hal yang mulai sulit ditemukan di banyak tempat: kesediaan untuk bekerja bersama tanpa menghitung keuntungan pribadi. Dari ruang sederhana itulah, nadi kebersamaan terus dipertahankan.








