DEPUR, RABU (27 Mei 2026) | Gnews86.com — Kumandang takbir menggema sejak pagi di halaman Masjid Nurul Huda, Desa Depur, Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Sekitar 200 jamaah memadati area masjid untuk melaksanakan Sholat Idul Adha 1447 Hijriah dalam suasana yang tertib dan penuh kekhusyukan. Momentum keagamaan itu tidak hanya menjadi ritual tahunan umat Islam, tetapi juga ruang refleksi sosial tentang makna penghambaan, kesetaraan manusia, dan tanggung jawab moral di tengah perubahan zaman yang terus bergerak cepat.
Pelaksanaan Sholat Idul Adha dipimpin oleh Imam Abu Talib Serang, sementara Maulana Serang yang menjabat Sekretaris BUMO Desa Depur bertugas sebagai masiral. Khutbah Idul Adha disampaikan oleh Mohamad Imron Rumra, S.Pd., yang juga dipercaya sebagai Ketua Panitia Hewan Kurban tahun ini. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema “Ketauhidan Mengangkat Derajat Umat Manusia”, sebuah tema yang dinilai relevan dengan situasi sosial masyarakat modern yang mulai menghadapi tantangan fragmentasi nilai dan menurunnya kesadaran spiritual di ruang publik.
Hadir pula sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama yang memberi warna tersendiri dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Di antaranya Sekretaris Nahdlatul Ulama Kota Tual Abu Samad Serang, M.Si., tokoh negeri Depur Alamsyah Serang, tokoh pemuda Senen Serang, tokoh perempuan Fatima Serang, Sri Odar, Ibu Sari Rery, hingga perwakilan kepolisian Pa Renwarin. Kehadiran berbagai unsur masyarakat itu memperlihatkan bahwa Idul Adha di Depur tidak hanya dipahami sebagai peristiwa ibadah individual, melainkan juga momentum sosial yang mempertemukan seluruh lapisan masyarakat dalam satu ruang spiritual yang sama.
Sejak matahari pagi mulai meninggi, halaman masjid dipenuhi jamaah dari berbagai kelompok usia. Anak-anak duduk berdampingan dengan orang tua, sementara para pemuda membantu mengatur saf dan kendaraan jamaah yang terus berdatangan. Tidak tampak sekat sosial yang mencolok. Pemandangan itu menjadi gambaran konkret dari pesan utama khutbah yang menekankan bahwa di hadapan Tuhan, manusia berdiri dalam derajat yang sama tanpa dibatasi status sosial, jabatan, ataupun latar belakang ekonomi.
Suasana religius semakin terasa ketika gema takbir dikumandangkan secara bersama-sama sebelum pelaksanaan sholat dimulai. Kalimat-kalimat pujian kepada Allah yang dilantunkan berulang kali menciptakan atmosfer yang hening namun kuat secara emosional. Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kebisingan informasi dan kompetisi sosial, momentum Idul Adha di Desa Depur justru menghadirkan ruang jeda yang mengajak masyarakat kembali menata orientasi hidupnya kepada nilai-nilai ketauhidan dan kemanusiaan.
KETAHUIDAN DAN MARTABAT MANUSIA
Dalam khutbahnya, Mohamad Imron Rumra menekankan bahwa perjalanan spiritual Nabi Ibrahim AS menemukan konsep ketauhidan merupakan tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia. Menurutnya, penolakan Nabi Ibrahim terhadap penyembahan benda-benda langit seperti bintang, bulan, dan matahari menunjukkan proses rasional dan spiritual manusia dalam mencari hakikat ketuhanan yang sejati.
Ia menjelaskan bahwa konsep keesaan Tuhan bukan sekadar ajaran teologis, tetapi juga fondasi lahirnya penghormatan terhadap martabat manusia. Ketika manusia tidak lagi menyembah alam ataupun sesama manusia, maka posisi manusia sebagai makhluk mulia mulai ditegakkan. Pesan tersebut dinilai penting di tengah situasi global yang masih dipenuhi konflik identitas, eksploitasi manusia, hingga kecenderungan memuja kekuasaan dan materi secara berlebihan.
Khutbah itu juga menggarisbawahi bahwa Nabi Ibrahim AS bukan hanya simbol ketaatan, tetapi juga simbol keberanian intelektual dan spiritual. Dalam penjelasannya, khatib menyinggung ayat-ayat Surah Al-An’am yang menggambarkan proses pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim. Narasi itu mengajak jamaah untuk memahami bahwa keyakinan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses perenungan, pengujian batin, dan keberanian meninggalkan kesesatan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.
Di tengah perkembangan masyarakat modern, pesan tersebut menjadi kritik halus terhadap kecenderungan sebagian masyarakat yang menjalankan ritual agama secara formal namun kehilangan dimensi reflektifnya. Ibadah sering kali berhenti pada simbol, sementara nilai keadilan, kejujuran, dan kesetaraan justru tertinggal dalam praktik kehidupan sehari-hari. Dalam konteks itu, khutbah Idul Adha di Depur mencoba mengembalikan agama pada fungsi dasarnya sebagai kekuatan moral yang membebaskan manusia dari dominasi hawa nafsu dan ketimpangan sosial.
Khatib juga menyinggung peristiwa pengorbanan Nabi Ismail AS yang menurutnya bukan sekadar kisah kepatuhan personal, melainkan simbol berakhirnya tradisi pengorbanan manusia dalam sejarah peradaban. Pergantian Ismail dengan hewan kurban dipahami sebagai penegasan bahwa manusia memiliki martabat yang tidak boleh direndahkan atau dikorbankan demi kepentingan apa pun.
MAKNA HAJI DAN KRITIK SOSIAL KEAGAMAAN
Selain membahas ketauhidan, khutbah juga mengulas makna ibadah haji sebagai simbol kesetaraan universal. Mohamad Imron Rumra menjelaskan bahwa penggunaan pakaian ihram dalam ibadah haji mengandung pesan sosial yang sangat kuat. Ketika seluruh manusia mengenakan kain putih tanpa atribut status, maka seluruh identitas duniawi pada hakikatnya dilepaskan.
Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat yang masih sering terjebak dalam hierarki sosial dan budaya pamer status. Dalam kehidupan sehari-hari, ukuran keberhasilan kerap ditentukan oleh jabatan, kekayaan, atau pengaruh sosial. Padahal, dalam perspektif spiritual, manusia dinilai berdasarkan ketakwaannya, bukan simbol-simbol duniawi yang melekat sementara.
Khutbah itu juga menyentuh fenomena keberagamaan modern yang kadang kehilangan substansi. Ibadah haji, misalnya, tidak cukup dimaknai sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi harus menghadirkan perubahan sikap sosial setelah seseorang kembali ke tengah masyarakat. Kritik tersebut disampaikan secara halus namun tegas, bahwa ritual keagamaan tanpa perubahan perilaku sosial hanya akan menyisakan kelelahan spiritual tanpa dampak nyata.
Di sisi lain, jamaah terlihat mengikuti khutbah dengan penuh perhatian. Sebagian mencatat poin-poin penting, sementara yang lain menyimak dalam keheningan. Bagi masyarakat Desa Depur, khutbah Idul Adha bukan sekadar bagian formal dari pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pendidikan moral yang diwariskan secara kolektif dari generasi ke generasi.
Kehadiran tokoh-tokoh masyarakat dan unsur kepolisian dalam pelaksanaan Idul Adha juga memperlihatkan pentingnya sinergi sosial di tingkat desa. Dalam beberapa tahun terakhir, desa-desa di wilayah kepulauan menghadapi tantangan sosial yang tidak ringan, mulai dari persoalan ekonomi, migrasi generasi muda, hingga perubahan pola interaksi sosial akibat perkembangan teknologi digital. Karena itu, momentum keagamaan seperti Idul Adha dipandang penting untuk memperkuat kembali kohesi sosial masyarakat.
SEMANGAT KURBAN DAN SOLIDARITAS SOSIAL
Pada Idul Adha tahun ini, panitia mencatat terdapat tiga ekor sapi dan tiga ekor kambing yang dikurbankan oleh masyarakat. Hewan-hewan kurban tersebut rencananya akan didistribusikan kepada warga yang membutuhkan di Desa Depur dan sekitarnya. Distribusi kurban dilakukan dengan melibatkan pemuda desa agar proses pembagian berlangsung tertib dan merata.
Ketua Panitia Hewan Kurban Mohamad Imron Rumra mengatakan bahwa semangat kurban bukan terletak pada besar kecilnya jumlah hewan yang disembelih, melainkan pada nilai solidaritas sosial yang dibangun melalui ibadah tersebut. Dalam masyarakat kepulauan yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi, pembagian daging kurban memiliki makna sosial yang sangat besar karena menjadi simbol kepedulian antarwarga.
Di balik suasana religius Idul Adha, masyarakat Desa Depur juga menyadari bahwa tantangan kehidupan ke depan tidak semakin ringan. Ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, dan terbatasnya lapangan kerja bagi generasi muda masih menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan perhatian serius berbagai pihak. Karena itu, pesan ketauhidan yang disampaikan dalam khutbah tidak hanya dipahami secara spiritual, tetapi juga sebagai panggilan untuk membangun kehidupan sosial yang lebih adil dan bermartabat.
Sejumlah warga mengaku bahwa tema khutbah tahun ini terasa lebih dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Di tengah meningkatnya persaingan sosial dan kecenderungan masyarakat menilai manusia dari status ekonomi, khutbah tentang ketauhidan dinilai mengingatkan kembali bahwa nilai manusia sesungguhnya tidak ditentukan oleh kekayaan ataupun jabatan.
Pelaksanaan Sholat Idul Adha di Masjid Nurul Huda akhirnya tidak hanya meninggalkan jejak seremoni keagamaan semata. Di bawah langit pagi Kei Besar, pesan tentang ketauhidan, pengorbanan, dan kesetaraan manusia kembali diperdengarkan dalam bahasa yang sederhana namun mendalam. Ketika dunia terus bergerak dengan segala perubahan dan kepentingannya, masyarakat Depur memilih merawat satu keyakinan lama yang tetap relevan sepanjang zaman: bahwa manusia hanya akan memiliki martabat ketika mampu menempatkan Tuhan di atas segala-galanya, dan sesama manusia sebagai saudara yang harus dihormati.








