KUANSING RIAU— Sebanyak 29 wisatawan mancanegara asal Belanda melakukan kunjungan historis ke Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, sejak Jumat (15/5/2026) hingga Sabtu (16/5/2026).
Kunjungan selama dua hari tersebut dilakukan oleh para anak dan cucu mantan pekerja kolonial untuk menelusuri secara langsung jejak sejarah, sisa peninggalan rel kereta api jalur Kuansing-Sijunjung, serta eks lokasi pertambangan emas dan batu bara tempat leluhur mereka pernah mengabdi dan menghadapi masa-masa kelam di pedalaman Sumatra.
MISI NOSTALGIA DAN PENCARIAN SEJARAH KELUARGA DI TANAH KUANSING
Rombongan yang terdiri dari puluhan warga negara Belanda ini datang dengan misi khusus, yakni melihat dari dekat wilayah tempat kakek-nenek atau orang tua mereka pernah hidup dan bekerja. Pada masa kolonial, leluhur para turis ini merupakan bagian dari tenaga kerja teknis dan pengawas dalam proyek pembangunan infrastruktur transportasi serta eksploitasi sumber daya alam di kawasan pedalaman Sumatra.
Kehadiran mereka di Kabupaten Kuansing menjadi momentum emosional untuk menyatukan kembali potongan cerita lisan yang selama ini mereka dengar di Eropa dengan realitas geografis dan fisik yang ada di lapangan. Puluhan turis ini berkomitmen menyusuri titik-titik krusial yang menjadi saksi bisu dinamika kehidupan keluarga mereka puluhan tahun silam.
TRAGEDI KELAM MASA PENDUDUKAN JEPANG DAN NASIB PARA LELUHUR
Perjalanan sejarah keluarga para wisatawan ini tidak lepas dari lembaran hitam saat peralihan kekuasaan dari kolonial Belanda ke pendudukan militer Jepang di Indonesia. Ketika tentara Jepang masuk dan menguasai wilayah Sumatra, struktur kehidupan para pekerja Belanda ini berubah total. Para pria dewasa ditangkap dan dipaksa menjalani kerja paksa (romusha) untuk membangun jalur kereta api dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Banyak di antara para pekerja pria tersebut yang akhirnya meninggal dunia akibat kelaparan, penyakit, dan perlakuan kasar selama kerja paksa, sehingga jenazah mereka dikebumikan di tengah hutan belantara Sumatra dan tidak pernah kembali ke negeri kincir angin. Sementara itu, kelompok perempuan dan anak-anak ditahan di kamp tawanan (interniran) di wilayah Bangkinang sebelum akhirnya dievakuasi dan dipulangkan ke Belanda setelah perang berakhir.
RUTE NAPAK TILAS DI PEDALAMAN HUTAN SUMATRA
Dalam proses penelusuran sejarah ini, rombongan wisatawan menjelajahi sejumlah desa terpencil di Kabupaten Kuansing yang secara historis terhubung dengan jalur logistik masa lalu. Rute perjalanan menyusuri kawasan pedalaman ini dipandu oleh agensi wisata sejarah yang memfasilitasi akses menuju lokasi-lokasi peninggalan.
Desa-desa yang menjadi fokus kunjungan antara lain Koto Baru, Logas, Lubuk Ambacang, hingga Desa Koto Kombu. Lokasi-lokasi ini dikenal memiliki keterkaitan erat dengan proyek infrastruktur era kolonial, baik berupa bekas mes pekerja, area eksplorasi tambang, maupun sisa bantalan rel yang kini sebagian besar sudah menyatu dengan vegetasi hutan setempat.
PENEMUAN JALUR SANG RATU HELMINA DI DESA KOTO KOMBU
Salah satu momen paling mengharukan dalam kunjungan tersebut terjadi saat rombongan berada di Desa Koto Kombu. Di lokasi ini, para turis menemukan sebuah jalur bersejarah yang secara lokal dikenal dengan nama Jalur Sang Ratu Helmina. Nama tersebut diambil dari nama Ratu Wilhelmina, yang memimpin Kerajaan Belanda pada masa proyek kolonial tersebut berjalan.
Penemuan papan nama atau identitas jalur yang menggunakan nama ratu mereka memicu keharuan mendalam bagi seluruh anggota rombongan. Bagi mereka, keberadaan nama tersebut merupakan bukti otentik yang tidak terbantahkan mengenai kehadiran dan pengaruh aktivitas leluhur mereka di wilayah pedalaman Riau pada masa lalu.
KESAKSIAN PEMANDU WISATA DAN HARAPAN PELESTARIAN SITUS
Direktur Destination Company Management Tigo Balai sekaligus pemandu wisata rombongan, Osvian Putra, mengonfirmasi bahwa kunjungan berjalan dengan lancar dan penuh dengan suasana emosional. Kehadiran sisa-sisa infrastruktur yang masih terjaga memberikan kepuasan tersendiri bagi para wisatawan.
”Mereka happy dan terharu sekali karena dapat melihat langsung lokasi leluhur mereka tinggal dan meninggal di masa lalu,” kata Osvian, Minggu (17/5/2026).
Osvian juga menambahkan bahwa para wisatawan sangat mengapresiasi sikap masyarakat lokal yang tetap mempertahankan keberadaan rel kereta api serta terrowongan peninggalan sejarah tersebut hingga saat ini. Berdasarkan penuturannya, para turis menaruh harapan besar agar situs-situs ini terus dirawat.
”Mereka berharap jangan sampai rusak apalagi hilang,” ujarnya.
KELANJUTAN PERJALANAN WISATA SEJARAH KE SUMATRA BARAT
Setelah menyelesaikan agenda napak tilas selama dua hari di Kabupaten Kuansing, rombongan 29 turis Belanda ini tidak langsung kembali ke negara asal mereka. Mereka dijadwalkan untuk melanjutkan perjalanan wisata sejarah menuju provinsi tetangga, yaitu Sumatra Barat.
Rombongan akan bergerak menuju kawasan Sawahlunto dan Sijunjung, dua wilayah yang juga memiliki keterkaitan erat dengan jaringan rel kereta api batubara Sumatra Staatsspoorwegen (SSS) serta situs tambang warisan budaya dunia. Langkah ini dilakukan guna melengkapi data historiografi keluarga serta melihat ujung dari jalur kereta api yang terhubung dari wilayah Kuansing.
Editor: Redaksi








