MANADO (Sulawesi Utara) www.GNews86.com – Harga cabai rawit atau rica di Sulawesi Utara (Sulut) yang menembus Rp150 ribu per kilogram membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut mengambil langkah cepat untuk mengatasi kelangkaan pasokan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling (YSK) mengambil langkah dengan mendatangkan sekitar 3 ton cabai dari Jawa Timur (Jatim) dalam waktu dekat. Cabai tersebut akan dibeli dengan harga lebih murah untuk membantu menambah pasokan sekaligus menekan harga di pasaran.
“Dalam waktu dekat akan datang kurang lebih 3 ton. Kita ambil dari Jawa Timur dengan harga sangat murah sekali dan itu untuk menetralkan kondisi hari ini cabai,” kata YSK, Selasa 08/09/2026.
YSK mengakui harga cabai saat ini sudah terlalu tinggi dan tidak boleh dibiarkan terus membebani masyarakat.
“Ini sudah kelewatan memang,” tegasnya.
Salah satu faktor yang memengaruhi produksi cabai menurutnya adalah faktor cuaca. Minimnya curah hujan menyebabkan ketersediaan air bagi tanaman cabai berkurang sehingga berdampak pada produksi dan pasokan di pasar.
“El Nino ini juga mengakibatkan tidak ada hujan di Sulawesi Utara. Hujan ini atau air ini memang dibutuhkan buat tanaman cabai,” jelasnya.
Kenaikan harga cabai juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi Sulut. YSK menyebut cabai menjadi salah satu komoditas yang saat ini paling mendapat perhatian pemerintah.
“Untuk yang lainnya kita aman. Cuma cabai ini harganya keterlaluan Rp150 ribu,” ungkapnya.
Gubernur juga meminta para pedagang dan tengkulak tidak memanfaatkan kondisi tersebut dengan memainkan harga.
“Saya berharap para tengkulak, penjual, saya titip agar jangan bermain harga,” tegas YSK.
Ia berharap tambahan pasokan dari Jawa Timur dapat menjadi langkah awal untuk menstabilkan harga rica di Sulut dan meringankan beban masyarakat.
“Apalagi Sulut saat ini nomor satu tertinggi untuk harga cabai dan ini inflasi lumayan tinggi,” ucapnya mengakhiri








